- Published in Warta YSIK
- Written by Super User
- Be the first to comment!
Semua Ada Waktunya

Magdalena Sitorus, istri mendiang Asmara Nababan, mengumpulkan kisah hidup perempuan-perempuan perkasa yang ditinggal pergi pasangan hidup untuk selamanya. Tentu saja, Bu Magda juga turut berbagi kisahnya.
Saparinah Sadli (istri alm. M. Sadli), Shinta Nuriyah (istri alm. Gus Dur), Widyawati (istri alm. Sophan Sophian), Yanti (istri alm. Chrisye), dan Suciwati Munir (istri alm. Munir). Buku ini berupaya menyampaikan bagaimana perempuan-perempuan ini mengatasi kedukaan mendalam ditinggal pasangannya, dan bagaimana mereka membangun semangat hidup kembali. Dalam upaya tersebut, masing-masing harus bergelut dengan memori yang masih mebalut dalam benak masing-masing, dan tentu saja, nilai-nilai perjuangan sang belahan jiwa yang tetap abadi meski jasad telah tiada.
Jumat, 21 Juni nanti, mereka akan berbagi pengalaman. Mulai dari romantika, nilai hidup, saat-saat terakhir, sampai dengan bagaimana mereka mampu keluar dari duka dan menapak melanjutkan kehidupan. Diskusi ini semata diperuntukkan bagi siapa saja yang sangat menghargai keabadian Cinta, dengan atau tanpa orang yang sangat kita cintai. Karena hidup akan terus berjalan, atas nama Cinta.

Lima belas tahun sudah Indonesia menapaki ‘era reformasi’, sebuah era yang diperoleh penuh perjuangan, beriring dengan penghilangan paksa pejuang kemanusiaan dan demokrasi, melonjaknya harga bahan pokok, dilanjut dengan Tragedi Mei, dengan hilangkan ribuan nyawa karena terbakar di pusat-pusat pertokoan, hangusnya pusat-pusat perekonomian, dan yang memilukan dan kerap disangkal adalah perkosaan atas perempuan etnis Tionghoa. TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta) mencatat 85 kekerasan seksual 53 diantaranya perkosaan.

Selasa, 4 Juni lalu, Elsam menyelenggarakan launching buku “Intimidasi dan kebebasan” yang merupakan hasil penelitian tim Elsam terhadap kondisi kebebasan berekspresi di lima Provinsi: Sumatera Barat, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Kalimantan Barat, dan Papua. Menurut Indriyani, Direktur Eksekutif Elsam, buku ini diharapkan bisa menjaid batu awal untuk peletakan dasar tentang kebebasan berekspresi dan desentralisasi politik di Indonesia. Terdapat keberagaman fakta dalam buku yang memuat pembacaan atas ekspresi dalam dimensi politik, agama, dan budaya di kelima Provinsi yang disebutkan di atas.


